Oleh: Anos Yeremias (Anggota Fraksi Partai Golkar DPRD Provinsi Maluku)
Euforia Piala Dunia 2026 di Maluku sungguh luar biasa. Di berbagai sudut kota dan kampung, masyarakat larut dalam semangat sepak bola.
Warung kopi, rumah-rumah warga, grup WhatsApp, media sosial, hingga ruang-ruang publik dipenuhi perbincangan tentang pertandingan, prediksi skor, dukungan terhadap tim favorit, serta kebanggaan menjadi bagian dari pesta sepak bola dunia.
Fenomena ini menunjukkan bahwa sepak bola bukan sekadar olahraga. Di Maluku, sepak bola telah menjadi ruang ekspresi, ruang kebersamaan, bahkan ruang persaudaraan.
Orang dapat berbeda pilihan tim, berbeda warna bendera, berbeda negara yang didukung, tetapi tetap berkumpul dalam suasana penuh kegembiraan.
Di saat yang sama, di sejumlah wilayah Indonesia berlangsung aksi demonstrasi terkait Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Dinamika tersebut merupakan bagian dari kehidupan demokrasi.
Dalam negara demokratis, masyarakat memiliki hak untuk menyampaikan pendapat, aspirasi, kritik, maupun dukungan terhadap kebijakan pemerintah.
Menariknya, di Maluku perhatian publik beberapa hari terakhir lebih banyak tertuju pada euforia Piala Dunia. Hal ini tidak berarti masyarakat Maluku mengabaikan persoalan nasional. Sebaliknya, banyak masyarakat tetap mengikuti perkembangan berbagai isu, namun memilih menikmati momentum olahraga dunia tanpa kehilangan kepedulian terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara.
Masyarakat Maluku memahami bahwa tantangan yang dihadapi bangsa saat ini tidak berdiri sendiri. Harga kebutuhan pokok, lapangan kerja, investasi, pembangunan daerah, hingga kesejahteraan masyarakat dipengaruhi oleh banyak faktor, mulai dari kondisi ekonomi global, dinamika politik nasional, hingga efektivitas kebijakan pemerintah.
Karena itu, euforia Piala Dunia di Maluku dapat dipandang sebagai salah satu bentuk ketahanan sosial masyarakat. Di tengah berbagai tantangan kehidupan, masyarakat tetap mampu menciptakan ruang kebersamaan, menjaga optimisme, dan memperkuat hubungan antar sesama.
Piala Dunia mengajarkan bahwa perbedaan tidak harus menjadi alasan untuk saling menjauh. Dalam satu keluarga saja dapat ditemukan pendukung Brasil, Belanda, Argentina, Jerman, Portugal, Inggris, maupun Prancis.
Mereka saling bercanda, berdebat, bahkan saling menggoda dengan penuh keakraban, tetapi tetap dalam semangat persaudaraan.
Inilah salah satu kekuatan masyarakat Maluku.
Berbeda pilihan, tetapi tetap satu gandong.
Berbeda dukungan, tetapi tetap satu rasa.
Berbeda warna bendera, tetapi tetap menjaga persaudaraan.
Nilai-nilai tersebut sesungguhnya sangat relevan dalam kehidupan berbangsa.
Perbedaan pandangan terhadap suatu kebijakan adalah hal yang wajar dalam demokrasi. Namun, perbedaan tidak boleh berkembang menjadi permusuhan yang merusak persatuan.
Program MBG sebagai salah satu kebijakan nasional tentu patut terus dievaluasi agar pelaksanaannya semakin tepat sasaran, transparan, akuntabel, dan benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat, khususnya anak-anak sebagai generasi penerus bangsa.
Pada saat yang sama, masyarakat juga perlu menjaga suasana kebangsaan agar tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang dapat memperuncing perbedaan. Kritik yang konstruktif dan dialog yang terbuka merupakan bagian penting dari demokrasi yang sehat.
Maluku telah menunjukkan bahwa kegembiraan bersama juga dapat menjadi kekuatan sosial. Euforia Piala Dunia bukan sekadar hiburan, tetapi ikut menggerakkan aktivitas ekonomi masyarakat, menghidupkan warung kopi, usaha kecil, dan ruang-ruang perjumpaan yang mempererat hubungan antar sesama.
Sepak bola mengajarkan bahwa kemenangan tidak diraih hanya dengan semangat, tetapi juga melalui strategi, disiplin, kerja sama, dan kesabaran. Nilai-nilai inilah yang juga dibutuhkan dalam membangun bangsa.
Pada akhirnya, bangsa yang besar bukanlah bangsa yang bebas dari perbedaan. Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu mengelola perbedaan menjadi kekuatan, menjadikan keberagaman sebagai modal sosial, serta memelihara persatuan sebagai fondasi utama dalam membangun masa depan.
Indonesia saat ini menghadapi berbagai tantangan, baik di bidang ekonomi, sosial, pendidikan, kesehatan, maupun dinamika politik. Tantangan tersebut hanya dapat dihadapi apabila seluruh elemen bangsa mengedepankan dialog, memperkuat gotong royong, membangun kepercayaan, serta menjaga stabilitas sosial sebagai modal utama pembangunan nasional.
Maluku telah menunjukkan bahwa kebersamaan adalah kekuatan yang tidak ternilai. Semangat hidup orang basudara, semangat satu gandong, dan budaya saling menghormati telah menjadi fondasi kehidupan masyarakat Maluku selama bertahun-tahun.
Nilai luhur tersebut harus terus dijaga dan diwariskan kepada generasi muda sebagai identitas yang membanggakan.
Karena itu, mari kita jadikan momentum Piala Dunia bukan sekadar pesta olahraga, tetapi juga momentum untuk mempererat persaudaraan, memperkuat persatuan, membangun optimisme, serta menumbuhkan semangat bekerja bersama demi kemajuan daerah dan bangsa.
Perbedaan pilihan politik tidak boleh memutus tali persaudaraan.
Perbedaan pandangan tidak boleh menghilangkan rasa saling menghormati.
Perbedaan dukungan terhadap suatu kebijakan tidak boleh merusak semangat kebangsaan.
Mari kita buktikan bahwa masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat Maluku, adalah masyarakat yang dewasa dalam berdemokrasi, bijaksana dalam menyikapi perbedaan, dan tetap bersatu dalam keberagaman.
Karena sesungguhnya, pembangunan bangsa tidak hanya ditentukan oleh kebijakan pemerintah, tetapi juga oleh kedewasaan masyarakat dalam menjaga persatuan, memperkuat solidaritas, dan membangun optimisme di tengah berbagai tantangan.
Piala Dunia menyatukan dunia.
Persaudaraan menguatkan Maluku.
Persatuan mengokohkan Indonesia.
Selama semangat persaudaraan terus hidup di hati setiap anak bangsa, saya yakin Indonesia akan tetap berdiri teguh sebagai bangsa yang damai, kuat, maju, adil, sejahtera, dan bermartabat.
#Salam Olahraga.
#Salam Persaudaraan.
#Salam Indonesia Maju.