KILASMALUKU.ID, AMBON-
Skil komunikasi pejabat publik belakangan menjadi sorotan. Catatan kritisnya, kemarahan warga akibat ketidak becusan komunikasi pejabat publik menyulut demonstrasi besar-besaran di berbagai daerah beberapa waktu lalu. Termasuk di Provinsi Maluku, yang dipicu oleh stetmen Wakil Gubernur, Abdullah Vanath soal legalitas Sopi dan buka puasa pemicu inflasi.
Fenomena ini ditanggapi Akademisi asal Universitas Pakuan Bogor, Mey Chrezentya Rahail. Dia menilai seorang Kepala Daerah perlu memperhatikan cara berkomunikasinya agar pesannya dapat diterima dengan baik.
“Pertama gunakan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami masyarakat, hindari istilah teknis yang membingungkan,” jelasnya kilasmaluku.id, Selasa (16/8)
Selain itu, menurut dosen ilmu komunikasi ini, jika ada informasi yang disampaikan oleh kepala daerah, maka harus berbasis data dan pembuktian sehingga publik percaya dan merasa terhubung.
Sejauh pengamatannya, hal tersebut masih tampak pada beberapa stetmen yang di sampaikan Gubernur Maluku, Hendrik Lewerissa.
“Saya mengamati, setiap pertanyaan wartawan selalu dijawab gubernur dengan terstruktur dan bahasa yang jelas dan berpijak pada regulasi tanpa meninggalkan ruang untuk ambiguitas,” tambahnya.
Mey berpesan kepada Gubernur bahwa komunikasi seorang Kepala Daerah harus konsisten, baik data dan capaian, semua harus bisa diketahui publik. Karena itu untuk membangun transpransi dan kedekatan, baiknya komunikasi tidak hanya saat pidato atau forum resmi saja.
” Melainkan harus menggunakan berbagai media yang dekat dengan masyarakat, salah satunya media sosial. Saat ini masyarakat mencari informasi dan menilai kinerja pemimpinnya dari sumber yang bisa dia jangkaunya, yaitu media sosial,” saranya.
Dikatakan, saat ini media sosial bukan soal saja citra, melainkan alat untuk menunjukan transparansi, menumbuhkan kedekatan serta membangun kepercayaan secara nyata.
Sementara itu, berbeda dengan wakilnya, Gubernur Maluku sejauh ini cukup baik dalam menjaga komunikasinya. Hingga kini belum ada pernyataan yang berujung polemik di masyarakat. Hal tersebut sesuai dengan yang disampaikan Hendrik dalam berbagai forum.
“Saya selalu terbuka dalam berkomunikasi dengan siapapun dan tidak perlu ada kekakuan dalam menyampaikan masukan maupun kritik yang sifatnya membangun asal kritik itu didasarkan pada data yang valid,” ujar Hendrik. (ZA)