RAGAM

Musik Jadi Sarana Perdamaian: Program LKLB Libatkan Guru Islam dan Kristen di Ambon

AMBON,Kilasmaluku.id–Sebanyak 40 guru yang berasal dari sekolah umum dan madrasah dengan latar belakang agama Islam dan Kristen di Ambon, Maluku, berpartisipasi dalam Program Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB) untuk Perdamaian.

Kegiatan yang berlangsung pada 27 hingga 30 November 2025 ini bertujuan membekali para pendidik sebagai agen perdamaian di Maluku, wilayah yang memiliki riwayat konflik sosial.

Program LKLB untuk Perdamaian diinisiasi melalui kolaborasi strategis antara Institut Leimena, Yayasan Pembinaan Pendidikan Kristen (YPPK) Dr. JB. Sitanala, dan Sasakawa Peace Foundation, didukung oleh Sinode Gereja Protestan Maluku (GPM) dan Yayasan Sombar Negeri Maluku.

Peran guru dinilai krusial dalam upaya rekonsiliasi pascakonflik untuk menanamkan nilai toleransi dan mendorong kerja sama antar kelompok agama yang berbeda.

Direktur Eksekutif Institut Leimena, Matius Ho, menjelaskan, program ini mengadopsi pendekatan pedagogi baru dalam pendidikan perdamaian, yakni memanfaatkan musik.

“Program LKLB untuk Perdamaian menghadirkan pendekatan baru dalam pendidikan perdamaian, yakni menggunakan musik sebagai sebuah pedagogi untuk membangun perdamaian karena Ambon telah ditetapkan sebagai ‘UNESCO City of Music’,” ujar Matius Ho, Kamis (27/11/2025).

Lebih lanjut disampaikan, musik memiliki resonansi kuat dengan masyarakat Ambon. “Orang Ambon suka menyanyi, dan musik merupakan bagian yang sangat dekat dengan hati mereka. Kami melihat musik bukan hanya hiburan, tetapi juga sarana membangun kebanggaan dan solidaritas lintas iman. Musik juga akan menjadi alat baru bagi para guru untuk mengajar murid tentang keberagaman,” jelasnya.

Program ini merupakan pengembangan dari program LKLB yang telah dilaksanakan Institut Leimena sejak 2021, melibatkan lebih dari 10.700 guru di 38 provinsi. Khusus di Maluku, Program LKLB untuk Perdamaian telah dimulai sejak 2024 dan sebelumnya telah melatih 120 guru.

Matius Ho menyampaikan bahwa Maluku masih menghadapi tantangan segregasi sosial akibat konflik masa lalu, sehingga diperlukan pendekatan yang relevan dengan konteks budaya setempat.

Diketahui, hari pertama, para guru akan memperkuat kompetensi pribadi LKLB mengenai pemahaman agama masing-masing terkait orang lain yang berbeda.

Penguatan ini dilanjutkan dengan sesi kompetensi komparatif melalui dialog lintas agama di dua simbol keagamaan utama Ambon, yakni Masjid Raya Al-Fatah dan Jemaat GPM Bethel Klasis Kota Ambon guna membangun empati dan pengetahuan tentang tradisi agama lain.

Hari kedua, fokus pelatihan akan beralih ke warisan budaya lokal dengan sesi bertajuk “Orang Basudara dalam Bingkai Historis, Sosial, dan Budaya,” yang merupakan fondasi hubungan harmonis di Maluku. Guru-guru kemudian didorong untuk berkolaborasi dalam sesi “LKLB dalam Lagu” untuk menciptakan lagu-lagu bertemakan perdamaian.

Program ini juga melatih guru menganalisis gejala intoleransi untuk meningkatkan kesadaran dalam masyarakat majemuk. Tujuan akhirnya adalah melatih guru menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) berbasis nilai-nilai LKLB, memastikan pendidikan perdamaian dapat diintegrasikan ke dalam mata pelajaran apa pun di kelas.

Selain itu, program ini menampilkan sejumlah narasumber kredibel, termasuk tokoh agama dan akademisi terkemuka, seperti Pdt. Sacharias Izack Sapulette, Ketua Umum Sinode Gereja Protestan Maluku, Pdt. Elifas Maspaitella, Ketua Persekutuan Gereja-gereja Wilayah Maluku, Prof. Dr. Hasbollah Toisuta, Ketua Yayasan Sombar Negeri Maluku, Dr. Abidin Wakano, Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Abdul Muthalib Sangadji Ambon, dan Dr. Branckly E. Picanussa Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Ambon.

Inisiatif LKLB untuk Perdamaian ini juga dikembangkan sebagai model pembangunan perdamaian yang potensial untuk direplikasi di negara lain, khususnya di Asia Tenggara.

Bukti pengakuan internasional ini tercermin dengan kehadiran tujuh pengamat observer dari Kementerian Pendidikan Dasar, Tinggi, dan Teknis Daerah Otonomi Bangsamoro di Mindanao Muslim, Filipina. Delegasi tersebut hadir untuk mengamati secara langsung metodologi pendekatan LKLB dalam membangun dan merawat perdamaian di Ambon. (**)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Populer

To Top