AMBON,KM–Yayasan Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (YPPM) Maluku menyelenggarakan dialog perempuan dan politik dengan tema “Strategi dan peluang keterwakilan perempuan di pilkada Maluku di Kota Ambon”.
Kegiatan yang berlangsung di Cafe Kabar Timur, Poka, Kota Ambon, Selasa (30/7). Dialog tersebu turut mengahdrikan dua narasumber perempuan hebat yakni, Vivi Marantika dan politisi perempuan Firdayani Soumena dan dihadiri puluhan tamu undangan lainnya.
Firdayani Soumena mengatakan, keterwakilan perempuan pada pilkada Maluku serta memperkuat ketahanan demokrasi melalui partisipasi aktiif generasi milenial sangatlah penting.
“Perempuan harus dilibatkan dalam politik, karena perempuan memiliki peran untuk memenuhi hak-haknya sebagai warga negara. Sebab peran perempuan dalam berpolitik sangatlah mengidentifikasi peluang keterwakilan perempuan pada kontestasi Pilkada di Maluku saat ini,” ucapnya.
Menurtunya, kalau perempuan tidak ada dalam dunia politik, maka dunia politik akan pincang. Karena perempuan memiliki hak yang sama saat berbicara tentang politik dan pemerintahan.
Sebab, perempuan menggunakan politik sebagai wadah untuk menyampaikan aspirasi yang tak bisa diwakili oleh kaum laki-laki. Karena perempuan juga sama politiknya dengan kaum lelaki.
“Politik di maluku masih terbilang mahal, karena politik uang masih menjadi polemik dan masalah yang dirasakan oleh para calon legislatif perempuan dalam persiapan pilkada penting peran perempuan dalam mengawal momen pilkada nanti,” papar dia dalam materinnya.
Sementara itu, Vivin Marantika mengungkapkan bahwa, perempuan memiliki hak yang sama untuk berpolitik. Membrikan edukasi, masukan serta saran dalam membangun maluku.
“Perempuan yang terlibat dalam partai politik harus lebih di dorong untuk berani terlibat dalam dunian politik,” ujarnya.
Keterwakilan perempuan dalam politik ujar Vivin, sangatlah sedikit di provinsi Maluku. Partai politik sangat diskriminasi dan tidak ramah terhadap perempuan. Proses politik di maluku juga masih terlalu maskulin.
“Dalam pemenuhan 30% keterlibatan perempuan sebagai calon legislatif dan bakalcalon pejabat daerah masih sangat minim. Hal ini belum di rasakan ramah kepada kaum perempuan,” jelasnya.
Diakhir dialog, Iftin Yuninda selaku moderator mengatakan, dialog lintas jaringan tersebut diakhiri dengan komitmen bersama untuk terus mengawal proses demokrasi di Kota Ambon menjelang Pilkada 2024.
“Peran dan strategi adalah sama-sama bakukele dan saling mendukung dan juga berperan dalam mengawal pemilukada yang inklusif untuk perempuan,” tutup Yuninda (KM02).